Kamis, 03 Maret 2016

Halusinasi Cokelat



Nama ku Ridho aku hanya seorang anak laki – laki biasa hingga hidupku berubah sejak hari itu. Pagi minggu yang cerah dengan merdunya suara kicauan burung, aku terbangun karena panas dan silaunya sinar matahari yang masuk menembus jendela kamarku, lalu melihat kearah jam ternyata sudah pukul 8:50 pagi “Aduhh… Udah jam segini!! Gawat!! Gawat!!” gumamku dengan resah, aku pun bergegas pergi menuju kamar mandi. Hari ini aku ada janjian sama gebetan baru namanya Rina, janjiannya jam 9 pagi. Aku lupa ngehidupin jam alarm alhasil bangunnya kesiangan. Setelah bersiap – siap aku langsung turun kebawah mengambil kunci motor dan langsung membuka pintu, setelah keluar dari pintu tanpa sengaja aku menendeng sebuah kotak kecil “Eehh.. Apaan tuh?? “ sebutku pelan, kulihat kotak kecil berwarna hitam di samping kaki ku, dengan rasa penasaran aku mengambil kotak itu lalu membukanya, ternyata didalam kotak itu terlihat sebungkus coklat berbentuk bola yang dibungkus dengan kertas alumunium berwarna emas, “Wihh… Cokelat, Lumayan nih buat sarapan. Hehe…” bicaraku pelan dengan tawa kecil.

Perlahan kubuka bungkus cokelatnya, dan terlihat bola cokelat yang ukurannya kira – kira sebesar bola mata, terlihat warna cokelat berkilau yang menggoda, aku lalu menggigitnya perlahan “Krreekkhh!!” terdengar suara gigitannya dan mengalir cokelat lembut yang berada di isiannya, terasa kenikmatan yang teramat sangat, lalu tiba – tiba terasa aneh, tubuhku bergetar jantung ku berdegup dengan sangat cepat “Dek!! Tak!! Dek!! Tak!! DekTakDekTakDekTak!!...” Telingaku terasa mendengung hingga suara – suara yang berada di sekitar tidak terdengar lagi, dan tiba – tiba pandanganku menjadi aneh yang kulihat semuanya berwarna hitam putih aku tidak bisa bergerak. Perasaan yang sangat aneh, lalu tiba – tiba aku serasa terdorong kebelakang dan jatuh kesebuah pusaran air cokelat yang kental, “Aaaa…… “ Teriak ku kencang. Dan saat aku membuka mata tiba – tiba aku berada di sebuah hutan, tubuh ku tergeletak di rerumputan rimbun yang di tumbuhi oleh bunga – bunga kecil. “ Aku berada dimana?? “ Tanya ku pada diriku. “Heemm… Hemm… Hemm.. He..He.Hemm.. Hem..” terdengar suara senandung yang indah dan merdu, suaranya terdengar seperti suara seorang perempuan. Perlahan kucoba membangunkan tubuhku. Kulihat sekitar yang terlihat hanya rerumputan dan pohon – pohon yang rimbun.

Dengan pandangan yang masih buram terlihat di balik pohon besar seorang gadis dengan pakaian aneh sedang memetik bunga  sambil bernyanyi, tertengar suaranya yang sangat lembut dan merdu, dengan rasa penasaran kudekati gadis itu setelah mendekat “ Permisi… Ini dimana ya?? Tanya ku pada gadis itu. Dia terkaget hingga pundaknya mengejut, “ Maaf mba.. Mba siapa?? “ Tanya ku lagi, lalu gadis itu perlahan membalikkan badan, terlihat wajahnya yang cantik dengan senyuman manis, aku pun terpesona dan ikut tersenyum melihatnya. Tidak beberapa lama aku memandangnya, wajahnya langsung berubah menjadi aneh mulut yang terbuka lebar seperti mulut makhluk luar angkasa pemakan manusia yang sering ada di film – film. Dia seperti berteriak kearah ku terlihat gigi – gigi tajam yang penuh dengan lendir – lendir berwarna hijau, itu terlihat sangat menjijikan, aku sontak kaget melihat itu dengan wajah ketakutan aku pun balik badan dan langsung melarikan diri “Hhuuaaaa……!!! Aaagghhh!!! “ teriak ku keras seiring dengan lari ku yang kencang, aku melihat kebelakang, terlihat tubuhnya mengeluarkan kaki – kaki panjang seperti laba – laba, makhluk itu mencoba mengejarku, aku terus berlari menaiki batu dan melompati batang pohon yang tumbang serta menerobos terowongan akar, dia terus mengejarku merayap menaiki pohon – pohon dengan kakinya yang panjang. “Agghh!!! Tolong!! Tolong!! Siapa saja tolong aku… Tolong” teriakku sambil berlari.
           
Terlihat di ujung jalan sana sebuah rumah kecil sederhanan dengan cat berwarna biru, aku lalu berlari kearah sana untuk mencari perlindungan, aku hamper dekat dengan rumah itu “Zrreeeaakkkhhh!!!” tiba – tiba terdengar suara seperti jeratan, kulihat kebelakang ternyata makhluk itu terjerat oleh jebakan entah dari mana jebakan itu tapi syukurlah akhirnya aku terbebas dari makhluk yang mengerikan itu “ Huuhh.. Mampus lo!! Rasain tuh!! “ teriak ku sambil melemparkan sebuah batu kearah monster itu. “Grraaaauuurrhhh!!!” Geram monster itu ke arahku membuatku kaget, aku pun kembali berlari menuju rumah yang tadi. Sesampai disana kucoba untuk memanggil orang rumah “ Permisi!! Ada orang!! Misi!! “ teriak ku sambil melihat – lihat keadaan rumah. Pintu rumah itu terbuka terlihat seorang wanita tua bertubuh agak gemuk  dengan dastar putih bunga – bunga sambil memegang spatula di tangan kanannya, “ Ehh.. Ada Orang.. Silahkan masuk dulu “ kata nenek tua itu. Sebenarnya aku merasa aneh, tapi dengan pikiran positif dan tidak adanya lagi tempat yang ingin kutuju akhirnya aku memilih untuk masuk kerumah nenek itu.

Nenek tua        : “ Silahkan duduk ya!! “
Aku                 : “ Iyaa… Terimakasih, Ini dimana ya nek??”
Nenek tua        : “ Kamu pasti tersesat, Ini adalah Pulau Kakao?? “
Aku                 : “ Pulau Kakao??, Trus monster aneh mirip laba – laba tadi apa ya “
Nenek tua        : “ Itu Biniankabibitak dia itu makhluk yang sangat berbahaya
Makanya saya memasang banyak perangkap di sekitar sini “
Aku                 : “ Huuhh… Untung aja aku gak ketangkep, nenek lagi apa?? “
Nenek tua        : “ Ini lagi masak makanan, cucu mau?? Nih makan makanan ringan  
Dulu ya “ *Memberikan sebuah kotak yang berisi cokelat
Aku                 : “ Oh.. Iyaa… Terimakasih nek “

Aku lalu memakan cokelat yang di berikan oleh nenek tadi, cokelatnya terasa sangat enak membuat orang merasa bahagia saat mencicipinya. Aku sudah memakan banyak cokelat hingga aku melihat sebuah cokelat bulat sebesar bola mata yang berwarna cokelat mengkilat, mengingatkan ku tentang kenapa aku berada di sini “ Ini kan cokelat yang ku temukan di depan rumah, gara – gara cokelat ini aku berada di sini “ pikirku dalam hati, mungkin jika aku memakan cokelat ini aku bisa ke tempat ku berasal tempat dimana aku tinggal. Perlahan ku gigit cokelat itu, terasa sensasi yang sebelumnya sudah pernah kurasakan begitu nikmat hingga isian cokelat yang lembut mengalir di lidahku, tubuhku jadi lemas pandangan jadi kabur, aku merasa sulit untuk bergerak “ kenapa ini?? Kenapa dengan tubuh ku ini?? “ tanyaku pada diri ku sendiri dan perlahan semua mulai gelap, aku pun lunglai tergeletak. Dikegelapan aku mendengar suara hentakan “ Takk!!!... Ddttaakk!!... Takk!!!... Ddttaakk!!... “ suara yang keras terdengar di telingaku, kulihat ada sebuah tikik cahaya yang perlahan – lahan terlihat semakin terang aku mulai bisa membuka mataku “Ddttaakk!!... Takk!!!... Ddttaakk!!...” suara itu  masih terdengar, aku mulai membuka mataku walau hanya sayup – sayup cahaya yang bisa kulihat, perlahan penglihatan ku mulai jelas, kurasakan tubuhku serasa kaku tidak bisa di gerak – gerakkan.

Ku tengok ke arah kiri dan terjawab lah suara hentakan tadi, terlihat nenek tua tadi sedang memotong – motong bagian tubuh manusia, aku sangat kaget melihatnya tubuhku bergetar keringatku bercucuran deras, terlihat nenek tua itu sedang memotong bagian tangan dari manusia itu, manusia itu terlihat seperti seorang gadis dengan rambut panjang berwara cokelat. Aku tidak bisa apa – apa hanya bisa memandang tubuh ku terasa kaku, hingga nenek tua itu motong – motong bahunya dengan pisau daging yang besar membuat tubuhnya tergerak dan kepalanya tertungak menghadap saya, terlihat wajahnya yang cantik dengan ekspresi wajah senyum namun berlumuran dengan darah. Nenek tua itu mulai membuka isi perutnya dengan sebuah pisau kecil, aku tidak tahan melihatnya, tubuh ku bergetar keringat yang bercucuran deras mulut ku yang bungkam dan kaku tidak bisa berteriak perasaan mual yang begitu dasyat aku mencoba menutup mataku tidak kuat melihat kejadian itu, aku mencoba menggerak – gerakan tubuhku, jari – jari mu mulai bisa bergerak dan aku terus mencoba menggerak – gerakan tubuh ku, leherku yang sudah mulai ringan menoleh kesana kemari, tapi aku bergerak dengan hati – hati karena takut ketahuan nenek tua yang sadis itu. Ku lihat sekeliling kurasakan tangan dan kaki ku terikat oleh tali, sepertinya tali yang mengikat ku agak longgar sehingga tanganku cukup luluasa, aku mencoba meraba – raba di dekat sekitaran pengelangan tangan ku, kurasakan di tangan kananku memegang sebuah pecahan kaca seperti  berbentuk segitiga perlahan kugesek – gesekkan kaca tadi ke tali yang mengikat tangan ku, perlahan tapi pasti , aku tidak ingin nenek tua sadis itu menyadari kalo aku sudah bangun, bias bahaya jika aku ketahuan, dengan ketekunan ekstra akhirnya tali itu putus, dan kedua tangan ku sudah terlepas, tinggal kaki ku yang masih terikat.

“ Agghh… Aku lupa mengambil pucuk daun Tipakan “ kata nenek tua sadis itu sambil menggaruk – garuk kepalanya, Mataku yang mengintip melihat dia mengambil sebuah sabit entah untuk apa, dia masih tidak menyadari bahwa aku sudah terbangun, Nenek tua sadis itu lalu keluar dari ruangan dengan membawa sabit tadi, “ Ini kesempatan ku untuk kabur “ sebutku dalam hati, dengan cepat aku membangunkan badanku dan langsung memotong tali yang mengikat kedua kakiku, dengan perasaan gugup dan keringat yang mencucur keluar aku terus menggesek – gesekkan kaca itu ke sebuah tali yang mengikat kedua kakiku dan syukurlah akhirnya tali itu bias putus dan kakiku bisa bebas, aku merasakan sesuatu di sampingku, perlahan ku tengok dan ternyata nenek tua yang sadis itu berada didekatku. Terlihat wajahnya yang sangat mengerikan sangat berbeda sekali dari awal pertama aku melihatnya tadi, wajahnya yang buruk dan penuh keriput sambil memegang sebuah sabit menatap ku begitu sadis “ Mau kemana kamu cuu.. “ kada nenek tua sadis itu sambil mengangkat sabitnya, aku pun terkaget dengan perasaan gugup dan takut aku pun berteriak “Aaaaaa!!!.... “ teriakku kencang lalu menusukkan kaca yang berbentuk segitiga yang berada di tangan kananku , aku menusuknya tepat di mata kirinya hingga darah bercipratan dimana – mana bahkan mengenai tangan dan tubuh ku, aku langsung melompat dari tempat aku di ikat tadi dan langsung berlari keluar ruangan itu, “ AAgghhh!!!.. Dasar kau bocah!! Mau kemana kau!! Kau tidak bisa lari akan ku bunuh kau!!! “ teriak nenek itu . aku pun berlari menuju pintu keluar, kulihat pintu itu tertutup dengan cepat ku mendekatinya dengan tergesa – aku mencoba membuka pintu itu dan ternyata pintu itu terkunci “ Siall.. pintunya terkunci” sebutku kesal aku mencoba mendobrak – dobrak pintu itu tapi tidak bisa terbuka, aku bingung harus kemana lagi.

Kulihat disamping kiriku telihat sebuah pintu kusam yang tampak seperti pintu gudang, aku lalu membukanya, dan tanpa pikir panjang langsung masuk kedalam ruangan itu, ruangan itu sangat gelap dan memiliki bau busuk yang sangat tidak sedap, karena gelap aku mencoba meraba – raba di sekitar dan menemukan sebuah rak yang didalamnya ada sebuah korek api aku lalu mencoba menyalakan korek api tadi, dan kulihat di rak tadi ternyata ada sebuah lilin dan aku pun menghidupkan lilin itu berniat untuk melihat isi gudang ini. Aku lalu mengarahkan lilin yang ku pegang kearah sekeliling, dan terjawab semua tentang bau busuk yang kucium tadi, terlihat begitu banyak bangkai manusia dan hewan, potongan potongan tangan dan kaki digantung di dinding – dinding ruangan dan bola mata yang di kumpulkan disebuah toples berisikan air, serta isi perut dan bagian dalam tubuh manusia di letakkan di sebuah bak yang penuh dengan cairan darah, aku sempat muntah melihat semua potongan potongan tubuh itu. “ Akan kucincang kau bocah ingusan!! Kau tidak akan bisa lari dari sini!!” teriak nenek tua sadis itu dengan suara yang serak menyeramkan. Aku sangat ketakutan, aku mencoba mengintip dari sela – sela papan pintu, terlihat nenek tua sadis itu masih memegang sabit di tangan kanannya serta tangan kiri yang memegang mata kirinya yang penuh dengan darah.

Di menendang – dendang pintu yang iya lewati untuk mencari ku, hingga pintu terakhir yaitu pintu di mana aku berada , aku merasa sangat takut dan gugup, semakin dekat dan semakin dekat , aku tidak bisa berbuat apa – apa lagi, dan nenek tua sadis itu pun membuka pintunya “ Hhaha… kutemukan kau bocah tengik!! Kau harus bertanggung jawab karena telah membuat mataku seperti ini” teriak nenek tua sadis itu sambil menunjuk ku dengan sabitnya yang besar “ Ampun nek… Ampun…. Tolong jangan bunuh saya.. “ bicaraku memohon pada nenek tua sadis itu. “Eraaeerrrr!!! “Tiba – tiba terdengar suara erangan Biniankabibitak   “ Dasar sibodoh pengganggu, kenapa aku tidak membunuh dia terlebih dahulu tadi, ternyata dia bisa lepas dari jebakan ku “ gerutu nenek tua sadis itu, dan tiba – tiba “Bruaaakkk!! “ langit – langit rumah ini hancur dan terlihat kaki Biniankabibitak masuk menembus rumah ini hingga mengenai nenek tua sadis itu, nenek tua sadis tertusuk oleh kaki dari Biniankabibitak  tepat di tubuhnya dari belakang hingga tembus ke depan, begitu banyak darah yang bercipratan hingga mengenai ku. “Kurang ajar!!! “ teriak nenek tua sadis itu, ternyata dia masih hidup, lalu nenek tua sadis itu langsung memotong bagian kaki Biniankabibitak yang menusuknya hingga putus, darah – darah kembali bercucuran tapi anehnya darah yang keluar dari kaki Biniankabibitak itu berwarna hijau, terlihat kental dan lengket, dan nenek tua itu menghadapi ajalnya dia terjatuh dan tergeletak dengan penuh darah, dan dengan bagian ujung kaki Biniankabibitak masih menempel di tubuhnya.

Karena kakinya di potong, monster yang bernama Biniankabibitak itu akhirnya mengamuk dia mengerang – erang kesakitan dan menghancurkan bagunan rumah ini, aku bingung harus pergi kemana, kaki – kaki monster itu mulai menghancurkan rumah ini hingga tendangannya mengenaiku dan membuat ku terpental keujung ruangan ini, aku merasa sangat kesakitan, di saat aku terduduk kesakitan aku melihat sebuah pintu dilantai itu seperti menuju keruang bawah tanah, dengan cepat aku langsung masuk kepintu itu untuk menyelamatkan diri, disana terlihat sangat gelap, disamping dinding aku melihat ada sebuah saklar aku lalu menghidupkan saklar itu, di bawah sini hanya ada lorong yang di ujung lorong itu terlihat sebuah cermin besar yang mengingatkan ku tulisan yang ada di kotak cokelat yang kutemukan di depan rumah ku “ Teroboslah sebuah benda padat yang mampu memantulkan seluruh bayangan tubuhmu “ seperti itu lah tulisannya, aku pun berpikir untuk menerobos cermin itu. Tiba – tiba terasa seperti ada gempa, material – material yang ada di atas mulai berjatuhan, pasir – pasir yang berguguran menyirami tubuh ku “Rumah ini akan runtuh” bicaraku dengan rasa cemas, aku lalu memberanikan diri untuk menerobos cermin itu, “ Heeaahh…. !!! “ teriak ku sambil berlari dan langsung menghantam cermin dan “Deguuppp!!” “ Awww!! Sakit!!! “ jerit ku kesakitan aku terpental mundur cermin itu keras sekali tidak bisa di tembus hingga membuat jidatku benjol “ Aduhh!! Gimana nih gak bisa di tembus, Apa aku akan mati terkubur disini “ bicaraku makin cemas, perlahan kusentuh lagi cermin itu perlahan dengan  tangan kananku dan tangan ku seperti tembus di cermin itu. Lalu tiba – tiba aku terhisap kedalam cermin itu.
Ini terasa aneh aku seperti tersadar aku sudah pulang, kulihat aku masih berada di depan rumah dengan memegang sebuah kotak dan cokelat yang bekas kugigit. “ Huuhh!! Syukurlah aku kembali “ bicaraku menghela nafas lalu mengelap keringat yang ada dijidat ku, “ Aww!! “ jeritku, terasa sakit di jidat ku,“ Mungkin benjol karena itu “ pikirku dalam hati, kulihat tulisan di kotak itu berubah “ Satukan bentuk hati yang terbelah ” begitulah tulisannya. “ Ridho!! , ternyata kamu masih dirumah aku bete nungguin kamu di taman, kelamaan jadi aku semperin kamu “ teriak Rina yang berlari mendekati ku. “Kamu ngapain??, eh ada cokelat. Bagi dong!! “ Rina langsung mengambil cokelat itu dari tangan ku dan memakannya “Jangan!!!!” teriakku melarangnya, tapi semuanya terlambat, Rina memakannya dan kami berdua terdorong kesebuah pusaran cokelat.    

Bersambung……….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar