Kamis, 03 Maret 2016

Death or Dead Part III



Agghh!! Tidak!! Mereka Zombie

Senin 4 september kami pun pulang dari liburan yang penuh petualangan, Sepulangnya di gunung kami sampai di desa terakhir, Terasa aneh disana semuanya terlihat sepi dan tidak ada satu orang pun, dan terpaksa kami harus jalan kaki untuk menuju desa berikutnya di perjalanan terlihat dari jauh sebuah mobil jeep berukuran sedang  yang terparkir di tengah jalan, kami pun berteriak-teriak untuk minta tumpangan, sesampai disana terlihat di kaca mobilnya ada dua orang yang berada di dalam mobil itu. Perlahan tofan mengetuk kaca mobil itu “ Misii mas!! Om!! Boleh minta tumpangannya gak “ tak ada jawaban, dan adit tiba langsung membuka pintu mobil itu, tercium bau busuk dan terlihat dua orang yang tubuhnya hancur penuh dengan darah yang satu tidah memiliki kaki dan yang satu kepalanya terkoyak, para wanita pun terkejut dan berteriak melihatnya, tiba – tiba mayat itu bangun dan meraung ranung “ Agghh!! Agghh!! “ dengan tubuhnya yang hanya sepinggul dia terus meraih-raih kami hingga jatuh ke tanah dan terus mengejar kami dengan langkah pelan mengesot, terlihat wajah yang menyeramkan seperti terkoyak – koyak dan membusuk , giginya menguning agak kehitaman penuh dengan air liur seperti bernafsu untuk memakan kami, aku pun reflek mengam bil batang kayu yang agak besar berada di kaki ku lalu memukul kepalanya hingga pecah “ Aaa!!! “ teriak miya dan yuni sambil menutup mata mereka . darah pun berserakan dimana-mana. Dan tinggaal satu orang lagi di dalam mobil, aku perlahan mendekatinya dengan ditemani oleh adit. Dengan rasa gugup aku bersiap untuk memukulnya dan adit membuka pintunya “ Oke siap 1.. 2.. 3.. “

Pintunya pun terbuka dan mayat orang itu terjatuh, ternyata mayat itu tidak hidup terlihat kepalanya yang sudah hancur dan terkoyak , bagian kepala sebelah kirinya hancur matanya lepas dan bagian otak yang porak – poranda, aku pun menyeret mayat itu dan memeriksa bagian mobilnya lalu membersihkannya “ aman!! “ Teriakku kepada miya, yuni, dan tofan . terdengar suara raungan di semak – semak di belakang mereka. “ aggh!! Agghh!! “ terlihat 3 orang laki – laki dengan tubuh membusuk mendekati mereka dengan berjalan menyeret “ ayoo!! cepat kesini awas di belakang kalian!! “ teriakku sambil menunjuk kearah belakang mereka, aku langsung masuk kedalam mobil itu, “ dit cepat buka semua pintu ” perintah ku kepada adit, aku terus berusaha menghidupkan mobilya, dan setelah mereka semua masuk akhirnya mobil itu bisa hidup “ Tutup pintunya “ perintah ku pada semua, aku langsung mengginjak gas dan meinggal kan mayat hidup itu, “ huuh gila, hampir aja “ sebutku sembari menghela nafas, “ Mereka semua itu zombie “ teriak pelan yuni kepada ku. “ van!! Tu bensin cukup gak sampe kekota “ bicara adit sambil menunjuk kearah pengukur bahan bakar, dan terlihat hanya seperempat dari penuh “ mungkin gak cukup “ jawabku pada adit. Di tengah obrolan kami “ dit!! Kenapa tuh?? “ Tanya ku pada adit yang terlihat di tengah jalan menpat orang yang sedang jongkok mengelilingi seseorang.

Kami pun berhenti kira – kira jaraknya 20 meter dari tempat orang itu berkumpul tadi, orang – orang itu pun berdiri menghadap kami, terlihat wajah dan tubuh mereka semua yang menyeramkan penuh dengan darah dan luka di tubuhnya, baju compang – camping dengan keadaan tubuh membusuk. “ Mereka menyeramkan sekali “ sebut yuni pelan dengan rasa takut. Di tengah jalan itu mereka sedang memakan seorang wanita gemuk terliaht isi perut yang berhamburan dan kepala yang terkoyak, mereka seperti kanibal dengan nafsu makan yang kuat, dengan cepat mereka mendekati kami dengan langkah menyeret, “ Mereka mendhekat!! “ teriak pelan miya “ iya tabrak aja van!! “ perintah adit padaku. Aku langsung menginjak gas “Aaaaaa!! “ teriak kami semua  dan menabrak dua orang di depan kami,  darah pun berhamburan di kaca mobil dan juga sebuah tangan menyangkut di kap depan mobil, zombie tadi masih mengejar kami dan aku pun menambah kecepatan hingga meninggal kan zombie – zombie yang menyeramkan tadi, dia terus mengejar tetapi kami lebih cepat dan akhirnya zombie itu tertinggal jauh.

Kami terus berjalan dengan menaiki jeep yang kami pakai tadi, bensin pun sudah hampir habis, di depan jalan terlihat sebuah markas Tentara dan aku berniat untuk singgah di sana karena melihat keadaan bahan bakar yang tidak mencukupi untuk sampai ke kota, mungkin saja ada orang yang masih hidup disana, tapi sialnya hanya tinggal berjarak 100 meter lagi ketempat tujuan mobil itu mogok karena kehabisan bensin dan terpaksa kami harus jalan kaki ke tempat markas Tentara itu, perlahan kami mulai melihat keadaan sekeliling memastikan aman untuk keluar dari mobil, perlahan Adit mulai membuka pintu pertama kali lalu aku, Miya , Tofan dan kemudian Yuni. “ Ayo kita harus cepat sebelum ada zombie lain yang mengejar kita “ perintah ku pada mereka.
Kami langsung bergegas lari menuju markas tentara itu dan berharap ada orang yang masih hidup dan bisa membantu kami untuk pulang kekota. Sesampai didepan pagar markas tentara kami berteriak, “ woyy!!! Wooyy!! Tolong!! Tolong!! “ teriak kami sambil menggoyang – goyang pagar dan memukulnya dengan sebilah kayu yang ku bawa tadi. Ternyata teriakan kami dan suara berisik yang kami buat memancing seorang zombie keluar dari hutan yang dekat dengan markas tentara, Terlihat zombie dengan memakai pakaian tentara yang compang – camping, tubuh dan wajahnya membusuk sama seperti zombie – zombie lain, kami semua terkejut raunggannya membuat kami merasa takut “Eaaagghh….. Eegghh.. Aaaahhh...” raung zombie itu dengan raut wjah yang penuh nafsu ingin memakan kami. Aku mencoba mengayun – ayunkan tongkat ku di hadapan zombie itu tapi tetap tidak ada pengaruhnya dia terus maju dan kami terus mundur, teman – teman ku berada di belakang berlindung dengan ku, lalu ada satu zombie lagi muncul dari arah yang sama , kami semakin terpojok.

Dan dengan rasa takut aku memejamkan mataku berniat untuk memukul zombie itu “Aaaa!!” teriakku “Duuss!! Duss!!” tiba – tiba terdengar dua letusan dari belakang dan saat aku membuka kedua mataku zombie itu sudah mati dengan kepala yang pecah akibat luka tembakan, kami semua menoleh kebelakang keasal suara letusan itu dan terlihat dua orang tentara yang satu sedang memegang pistol dan yang satunya memegang sniper, “huuhh!! Syukurlah” bicaraku pelan sambil menghela nafas, “pak tolong kami!!” bicara yuni kepada tentara itu, lalu seorang tentara membukakan kunci pagar, tanpa pikir panjang kami pun bergegas masuk kedalam markas tentara itu, kami di antar ketempat peristirahatan didalam ruangan markas tentara, di sana kami di sambut oleh seorang wanita kira – kira berumur 50 tahun dia seorang tukang masak di markas tentara ini, kami di suguhkan makanan – makanan dan tempat istirahat  disaat makan tentara senior bercerita mengapa mereka hanya tersisa bertiga di markas tentara ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar