Agghh!! Tidak!! Mereka Zombie
Senin 4 september kami pun pulang
dari liburan yang penuh petualangan, Sepulangnya di gunung kami sampai di desa
terakhir, Terasa aneh disana semuanya terlihat sepi dan tidak ada satu orang
pun, dan terpaksa kami harus jalan kaki untuk menuju desa berikutnya di
perjalanan terlihat dari jauh sebuah mobil jeep berukuran sedang yang terparkir di tengah jalan, kami pun
berteriak-teriak untuk minta tumpangan, sesampai disana terlihat di kaca
mobilnya ada dua orang yang berada di dalam mobil itu. Perlahan tofan mengetuk
kaca mobil itu “ Misii mas!! Om!! Boleh minta tumpangannya gak “ tak ada
jawaban, dan adit tiba langsung membuka pintu mobil itu, tercium bau busuk dan
terlihat dua orang yang tubuhnya hancur penuh dengan darah yang satu tidah
memiliki kaki dan yang satu kepalanya terkoyak, para wanita pun terkejut dan
berteriak melihatnya, tiba – tiba mayat itu bangun dan meraung ranung “ Agghh!!
Agghh!! “ dengan tubuhnya yang hanya sepinggul dia terus meraih-raih kami
hingga jatuh ke tanah dan terus mengejar kami dengan langkah pelan mengesot,
terlihat wajah yang menyeramkan seperti terkoyak – koyak dan membusuk , giginya
menguning agak kehitaman penuh dengan air liur seperti bernafsu untuk memakan
kami, aku pun reflek mengam bil batang kayu yang agak besar berada di kaki ku
lalu memukul kepalanya hingga pecah “ Aaa!!! “ teriak miya dan yuni sambil
menutup mata mereka . darah pun berserakan dimana-mana. Dan tinggaal satu orang
lagi di dalam mobil, aku perlahan mendekatinya dengan ditemani oleh adit.
Dengan rasa gugup aku bersiap untuk memukulnya dan adit membuka pintunya “ Oke
siap 1.. 2.. 3.. “
Pintunya pun terbuka dan mayat orang
itu terjatuh, ternyata mayat itu tidak hidup terlihat kepalanya yang sudah
hancur dan terkoyak , bagian kepala sebelah kirinya hancur matanya lepas dan bagian
otak yang porak – poranda, aku pun menyeret mayat itu dan memeriksa bagian
mobilnya lalu membersihkannya “ aman!! “ Teriakku kepada miya, yuni, dan tofan
. terdengar suara raungan di semak – semak di belakang mereka. “ aggh!! Agghh!!
“ terlihat 3 orang laki – laki dengan tubuh membusuk mendekati mereka dengan
berjalan menyeret “ ayoo!! cepat kesini awas di belakang kalian!! “ teriakku
sambil menunjuk kearah belakang mereka, aku langsung masuk kedalam mobil itu, “
dit cepat buka semua pintu ” perintah ku kepada adit, aku terus berusaha
menghidupkan mobilya, dan setelah mereka semua masuk akhirnya mobil itu bisa
hidup “ Tutup pintunya “ perintah ku pada semua, aku langsung mengginjak gas dan
meinggal kan mayat hidup itu, “ huuh gila, hampir aja “ sebutku sembari
menghela nafas, “ Mereka semua itu zombie “ teriak pelan yuni kepada ku. “
van!! Tu bensin cukup gak sampe kekota “ bicara adit sambil menunjuk kearah
pengukur bahan bakar, dan terlihat hanya seperempat dari penuh “ mungkin gak
cukup “ jawabku pada adit. Di tengah obrolan kami “ dit!! Kenapa tuh?? “ Tanya
ku pada adit yang terlihat di tengah jalan menpat orang yang sedang jongkok
mengelilingi seseorang.
Kami pun berhenti kira – kira jaraknya
20 meter dari tempat orang itu berkumpul tadi, orang – orang itu pun berdiri
menghadap kami, terlihat wajah dan tubuh mereka semua yang menyeramkan penuh
dengan darah dan luka di tubuhnya, baju compang – camping dengan keadaan tubuh
membusuk. “ Mereka menyeramkan sekali “ sebut yuni pelan dengan rasa takut. Di
tengah jalan itu mereka sedang memakan seorang wanita gemuk terliaht isi perut
yang berhamburan dan kepala yang terkoyak, mereka seperti kanibal dengan nafsu
makan yang kuat, dengan cepat mereka mendekati kami dengan langkah menyeret, “
Mereka mendhekat!! “ teriak pelan miya “ iya tabrak aja van!! “ perintah adit
padaku. Aku langsung menginjak gas “Aaaaaa!! “ teriak kami semua dan menabrak dua orang di depan kami, darah pun berhamburan di kaca mobil dan juga
sebuah tangan menyangkut di kap depan mobil, zombie tadi masih mengejar kami
dan aku pun menambah kecepatan hingga meninggal kan zombie – zombie yang
menyeramkan tadi, dia terus mengejar tetapi kami lebih cepat dan akhirnya
zombie itu tertinggal jauh.
Kami terus berjalan dengan menaiki
jeep yang kami pakai tadi, bensin pun sudah hampir habis, di depan jalan
terlihat sebuah markas Tentara dan aku berniat untuk singgah di sana karena
melihat keadaan bahan bakar yang tidak mencukupi untuk sampai ke kota, mungkin
saja ada orang yang masih hidup disana, tapi sialnya hanya tinggal berjarak 100
meter lagi ketempat tujuan mobil itu mogok karena kehabisan bensin dan terpaksa
kami harus jalan kaki ke tempat markas Tentara itu, perlahan kami mulai melihat
keadaan sekeliling memastikan aman untuk keluar dari mobil, perlahan Adit mulai
membuka pintu pertama kali lalu aku, Miya , Tofan dan kemudian Yuni. “ Ayo kita
harus cepat sebelum ada zombie lain yang mengejar kita “ perintah ku pada
mereka.
Kami langsung bergegas lari
menuju markas tentara itu dan berharap ada orang yang masih hidup dan bisa
membantu kami untuk pulang kekota. Sesampai didepan pagar markas tentara kami
berteriak, “ woyy!!! Wooyy!! Tolong!! Tolong!! “ teriak kami sambil menggoyang
– goyang pagar dan memukulnya dengan sebilah kayu yang ku bawa tadi. Ternyata
teriakan kami dan suara berisik yang kami buat memancing seorang zombie keluar
dari hutan yang dekat dengan markas tentara, Terlihat zombie dengan memakai
pakaian tentara yang compang – camping, tubuh dan wajahnya membusuk sama
seperti zombie – zombie lain, kami semua terkejut raunggannya membuat kami
merasa takut “Eaaagghh….. Eegghh.. Aaaahhh...” raung zombie itu dengan raut
wjah yang penuh nafsu ingin memakan kami. Aku mencoba mengayun – ayunkan
tongkat ku di hadapan zombie itu tapi tetap tidak ada pengaruhnya dia terus
maju dan kami terus mundur, teman – teman ku berada di belakang berlindung
dengan ku, lalu ada satu zombie lagi muncul dari arah yang sama , kami semakin
terpojok.
Dan dengan rasa takut aku
memejamkan mataku berniat untuk memukul zombie itu “Aaaa!!” teriakku “Duuss!!
Duss!!” tiba – tiba terdengar dua letusan dari belakang dan saat aku membuka kedua
mataku zombie itu sudah mati dengan kepala yang pecah akibat luka tembakan,
kami semua menoleh kebelakang keasal suara letusan itu dan terlihat dua orang
tentara yang satu sedang memegang pistol dan yang satunya memegang sniper,
“huuhh!! Syukurlah” bicaraku pelan sambil menghela nafas, “pak tolong kami!!”
bicara yuni kepada tentara itu, lalu seorang tentara membukakan kunci pagar,
tanpa pikir panjang kami pun bergegas masuk kedalam markas tentara itu, kami di
antar ketempat peristirahatan didalam ruangan markas tentara, di sana kami di
sambut oleh seorang wanita kira – kira berumur 50 tahun dia seorang tukang
masak di markas tentara ini, kami di suguhkan makanan – makanan dan tempat
istirahat disaat makan tentara senior
bercerita mengapa mereka hanya tersisa bertiga di markas tentara ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar